Feeds:
Pos
Komentar

Pria Muda yang Ingin Menikah

” Begini ustadz, usia saya sekarang baru 18 tahun. namun terus terang , saya sudah ingin sekali menikah. Saya khawatir terjebak dalam perzinaan, bila saya harus terus menunda menikah lebih lama lagi. ” Tanpa sungkan pemuda itu menceritakan keinginannya. Cerita itu sendiri sejatinya sudah memuat pertanyaan. Namun saya ingin lebih tahu jauh. Saya biarkan dia terus bercerita.

” Saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. tapi saya lebih sadar, bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tidak kuat menahan godaan syahwat. saya telaten puasa daud satu tahun ini, untuk menjalankan sunnah rosul, Gejolak itu memang teredam sebagiannya, namun yang masih tersisa begitu kuat. dan saya merasa tersiksa. apa saya sudah layak menikah ustadz….? “

Berikutnya terjadi tanya jawab antara pemuda tersebut dan sang ustadz, seputar pernikahan, kondisi pemuda tersebut yang memang belum mapan, dan tidak mempunyai pekerjaan, dan kemauan dari calon mertuanya untuk menikahkan putrinya dengan pemuda yang sudah mapan. Sang ustadz pun menyarankan agar pemuda tersebut memusyawarahkan hal tersebut dengan orang tua sang calon.

Kesepakatan atau perjudian? Lanjut Baca »

Ramadhan bak jamuan istimewa yang diperuntukkan Allah bagi hamba-hamba-Nya tanpa pandang bulu, baik bagi mereka para pecinta kebaikan, atau bagi mereka para pecinta maksiat. Para pecinta kebaikan menyambut jamuan Ramadhan untuk berlomba meraih kecintaan Allah. Sementara para pecinta maksiat sudah selayaknya menjadikannya sebagai perhentian terakhir dari petualangan dosa selama ini, sekaligus momentum balik untuk bergabung bersama kafilah pecinta kebaikan.

“Apabila malam pertama Ramadhan tiba, syaitan-syaitan dan jin jahat dibelenggu. Pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun yang terbuka. Pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun yang tertutup. Kemudian ada seorang penyeru yang berseru, ‘Wahai para pencari kebaikan, sambutlah! Wahai para pencari kejahatan, berhentilah. Maka Allah membebaskan orang-orang dari neraka, dan itu berlangsung pada setiap malam Ramadhan.” [Hadits Hasan, at-Tirmidzi: 682]

Bagi mereka yang gagal mendulang kemuliaan dari jamuan tersebut, sungguh tak ada kalimat yang bisa menggambarkan betapa meruginya mereka. Karena memang, tidak semua dari kedua golongan tersebut sukses meraih kemuliaan Ramadhan.
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِـهِ إلاَّ الْجُوْعِ وَالْعَطَشِ .
“Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan haus.” [Hadits Shahih, Ahmad: II/441 dan 373]

Jika demikian, menjadi penting bagi kita untuk mengetahui apakah kita termasuk orang-orang yang sukses mendulang rahmat dan maghfirah Allah di bulan Ramadhan. Setidaknya ada beberapa indikasi pasca Ramadhan yang bisa Anda jadikan parameter ukur dalam masalah ini.

(1) Menjadi Orang yang Ikhlas

Puasa Ramadhan menggembleng kita dalam mengikhlaskan niat, dimana puasa Ramadhan hanya dilakukan untuk Allah semata, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ: الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ, قَالَ اللهُ تَعَلَى: إلاَّ الصِّيَامُ فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أَجْزِيْ بِـهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ
“Setiap amal anak Adam akan dibalas berlipat ganda. Satu kebaikan akan dibalas 10 kali lipat sampai 700 kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa. Puasa ini untuk diri-Ku dan Aku akan membalasnya (dengan pahala tanpa batas). Dia meninggalkan syahwat dan makanannya demi diri-Ku….” [Shahih Muslim: 1151]

Inilah esensi ajaran tauhid. Jika ibadah Anda setelah Ramadhan tidak lagi bergantung pada tendensi selain-Nya, seperti riya’ dan sum’ah yang tergolong syirik kecil (lebih-lebih syirik besar), maka ini boleh jadi—Insya Allah—pertanda yang baik diterimanya amal Ramadhan Anda. Lanjut Baca »

Oleh : Andi Abu Najwa

Sholat tarowih telah usai, setelah berbincang sejenak dengan beberapa ikhwan maka penulis pun bergegas mengambil sandal untuk pulang, suasana romadhon yang semarak memang menambah rasa sukacita dalam diri, mereka yang biasanya tidak mengenakan busana muslim, maka di bulan romadhon ini berlomba-lomba mengenakan busana muslim dengan baik, Alhamdulillah.

Namun ada yang membuat hati ini miris, ada sebagian kaum muslimin dari kalangan pemuda dan ibu-ibu yang jahil masih mengenakan pakaian yang ketat walaupun mengenakan jilbab (baca : jilbab gaul), pakaian yang berwarna-warni berpadu dengan hiasan tujuh-belasan ketika berangkat tarowih, selain itu jilbab mereka banyak dihiasi bunga-bungaan yang mencolok perhatian, dengan tawa renyah dan lenggak-lenggok yang memikat, seakan pesan yang disampaikan adalah : ”Wahai para pemuda, lihatlah saya! Lihatlah keindahan baju yang saya kenakan! Lihatlah saya telah menjadi cantik dan bertakwa dengan baju ini! Lanjut Baca »

^Apa aRti saya bagimu?^

Oleh : Ukhtiy Ghaisani

^Bismillaah^

Dikatakan dalam sya’ir : Bukanlah orang yang mulia apabila bersalah sahabatnya, dia pun menyebarkan rahasia sahabatnya yang dulu diketahuinya. Sesungguhnya orang yang mulia adalah yang tetap cinta kepada sahabatnya, tetap menjaga rahasia pribadinya, tatkala bersahabat ataupun tidak. (Lihat Adabul ‘Isyrah, hal 33)

Ibnu Mazin berkata : “Seorang mukmin mencari udzur bagi saudara-saudaranya, sedangkan orang yang munafik mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya.”
Lanjut Baca »

MEMINUM AIR SENI SENDIRI 5X

Sungguh sangat mengharukan kisah ulama kita ini dalam perjalanan menggapai keutamaan ilmu. Sebagian ulama seperti Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Yusuf Ibnu Khirassy al-Marwazi al-Baghdadi, seorang alim yang jenius, paling banyak hafal hadis pada jamannya, mempunyai catatan perjalanan yang spektakuler antara Khurasan (Rusia) hingga Mesir.

Diceritakan bahwa beliau pernah meminum air seninya sendiri ditengah perjalanannya mencari hadis sebanyak lima kali. Lanjut Baca »

Ini adalah sebuah cerita oleh Ukhty Riska Ummu Ainani untuk Sunnihomescholling Groups.
Alhamdulillah , setelah membaca cerita ini banyak faidah yang bisa ana petik. Semoga juga bermanfaat buat ukhty fillah…

——————————————————————————————————-
Assalamu’alaikum Warohmatullohi wabarokatuh
Bismillah
Saya Riska,afwan nama di alamat e-mail adalah nama anak pertama saya. Sehubungan dg tulisan “Belajar dari kisah orang lain”, saya ingin cerita2 tentang pengalaman menyekolahkan anak di pondok, sekaligus kasih masukan buat ummahat. Begini(menurut saya):
*Perlu persiapan matang dari anak dan orang tua sbl mengambil keputusan msk pondok. Ortu perlu tholabul ilmi terlebih dahulu dg mantap. Dg semakin bertambah ilmu sang ortu,scr alamiah akan muncul kesadaran betapa butuhnya kita ini akan ilmu. Semakin bertambah ilmu,semakin sadar kita akan kekurangan kita.

*Kita hrs sungguh2 memenuhi hak anak akan pendidikan agama. Karena kemampuan dan ilmu yg terbatas,wajib bg kita mencarikan guru.

*Pondok (tentunya yg bermanhaj ahlus sunnah wal jama’ah) memiliki bbrp keunggulan sbg tempat tholabul ilmi, di atrnya(mnrt sy):
Lanjut Baca »

1. Khalifah ar-Rasyidin :
• Abu Bakr Ash-Shiddiq
• Umar bin Al-Khaththab
• Utsman bin Affan
• Ali bin Abi Thalib

2. Al-Abadillah :
• Ibnu Umar
• Ibnu Abbas
• Ibnu Az-Zubair
• Ibnu Amr
• Ibnu Mas’ud
• Aisyah binti Abubakar
• Ummu Salamah
• Zainab bint Jahsy
• Anas bin Malik
• Zaid bin Tsabit
• Abu Hurairah
• Jabir bin Abdillah
• Abu Sa’id Al-Khudri
• Mu’adz bin Jabal
• Abu Dzarr al-Ghifari
• Sa’ad bin Abi Waqqash
• Abu Darda’

Lanjut Baca »